Tarif Listrik Indonesia Naik, di Malaysia Justru Turun

Menteri Energi Malaysia Maximus Ongkili mengumumkan bahwa tarif listrik di negara itu akan diturunkan mulai 1 Maret 2015, membuat konsumen dapat hemat hingga 45 ringgit Malaysia atau sekitar Rp160.000 per bulan.

Dilansir dari laman Malaysian Insider, Rabu, 11 Februari 2015, tarif baru mengalami pengurangan sebesar 2,25 sen per Kwh tapi hanya berpengaruh pada mereka yang pemakaiannya lebih dari 300 Kwh per bulan.

Penurunan tarif terjadi setelah Sekjen DAP Lim Guan Eng, Januari lalu, mendesak agar pemerintah menurunkan tarif listrik untuk mengurangi tekanan bagi masyarakat, akibat kenaikan harga barang.

Ketua sayap pemuda UMNO Khairy Jamaluddin, yang juga menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga, juga menyerukan hal senada, awal Februari lalu, terkait dengan turunnya harga minyak dunia.

Pada 14 Januari 2015, pemerintah menetapkan tarif listrik berjenjang tergantung pemakaian. Sebesar 21,8 sen atau sekitar Rp770 per Kwh untuk pemakaian 200 Kwh pertama, lalu naik menjadi 33,4 sen untuk 100 Kwh berikutnya.

Sementara untuk penggunaan 301-600 Kwh dikenakan tarif 51,6 sen per Kwh. Untuk 601-900 Kwh sebesar 54,6 sen dan menjadi 57,1 sen untuk pemakaian listrik lebih dari 900 Kwh sebulan.

Tarif listrik di Malaysia itu lebih rendah dari Indonesia, di mana tarif listrik bagi konsumen rumah tangga paling rendah adalah 1.145 per Kwh, lebih mahal daripada tarif untuk industri yang hanya Rp964 per Kwh.

Banjir di Malaysia Paksa 100.000 Orang Mengungsi

Sejumlah regu penyelamat berjuang mendatangkan makanan dan pasokan lainnya ke kawasan timur laut Malaysia yang terendam banjir, pada Sabtu (27/12/2014).

Sedikitnya lima orang tewas dan lebih dari 100.000 lainnya mengungsi akibat bencana tersebut.

Dari pantauan koresponden BBC di Kuala Lumpur, Jennifer Pak, banjir melanda beberapa daerah di Negara Bagian Kelantan, dekat perbatasan Malaysia-Thailand.

Parahnya banjir itu, jalan-jalan ke sana tidak bisa dilalui truk dan mobil sehingga satu-satunya moda transportasi ialah helikopter.

Salah satu kota yang paling parah terendam banjir ialah Kota Bharu. Tinggi air di sana mencapai atap-atap rumah.

Kondisi itu menyulitkan regu-regu penyelamat yang hendak mengantarkan bantuan makanan dan pasokan lainnya ke berbagai tempat pengungsian.

“Saya akui situasi ini menantang bagi regu penyelamat dan kami berupaya sebaik mungkin untuk memastikan makanan sampai kepada para korban,” kata Wakil Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin kepada harian the Star.

Di tengah bencana tersebut, foto-foto Perdana Menteri Najib Razak yang tengah bermain golf bersama Presiden Amerika Serikat Barack Obama di Hawaii muncul di media massa Malaysia.

Meski Najib disebut-sebut mempersingkat kunjungannya ke Hawaii dan akan mengunjungi Negara Bagian Kelantan, Sabtu (27/12/2014), sejumlah warga Malaysia telanjur marah.

“Saya berang dengan mereka (pemerintah). Kami tidak peduli dengan politik mereka. Kami hanya ingin pemerintah melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan dan menolong kami,” kata Farhana Suhada, salah seorang warga yang memadati tempat pengungsian di luar Kota Bharu, kepada kantor berita AFP.

Sembari mendekap bayinya yang berusia enam bulan, perempuan berusia 28 tahun itu mengaku kesulitan makanan.

“Untuk sarapan, saya hanya punya tiga biskuit dan teh. Air tidak cukup dan tiada makanan untuk bayi saya,” ujar Farhana.

Dia terpaksa meninggalkan rumahnya empat hari lalu setelah air meningkat hingga nyaris mencapai lehernya.

“Saya kehilangan segalanya. Rumah saya, mobil, dan motor rusak parah,” katanya di antara 200 orang yang memadati sekolah dua tingkat yang menjadi tempat pengungsian.

Farhana tidak sendirian. Diperkirakan lebih dari 100.000 orang meninggalkan rumah mereka akibat banjir di kawasan timur laut Malaysia.

Jumlah itu ditengarai akan membengkak mengingat hujan akan terus mengguyur Negara Bagian Kelantan, Terengganu, dan Pahang dalam beberapa hari mendatang.